Kuat bukan berarti tak boleh menangis. Kuat itu artinya, tidak ‘mati’ stelah terpuruk. Juga tidak membawa kesedihan sebagai suatu akhir dari kehidupan.
– Tia Setiawati Priatna (via karenapuisiituindah) Via Karena PUISI itu Indahkami hanya bisa mendoakan keluarga yang ditinggalkan, semoga Tuhan memberi penghiburan.. .
Tanya
Pagi ini aku bertanya kepada malam, tentang arti terlambat.
Hanya siang yang bisa menjawabku, dengan detak waktu yang terus melaju.
Kepada matahari aku bertanya, tentang arti kegelapan.
Hanya suara jangkrik di malam hari, yang bisa mengerti.
Kepada peminta-minta aku bertanya, tentang arti kelimpahan.
Hanya sesuap nasi basi dalam kunyahannya, yang bisa menerka.
Kepada burung-burung di udara aku bertanya, tentang arti kebebasan.
Hanya kicauan anak mereka dalam sangkar, yang menjawabnya lantang.
Malam ini aku bertanya kepada pagi, tentang arti menunggu.
Hanya senja yang memberitahu, bahwa aku sudah terlambat.
[ imagine: saat puisi ini dibacakan, diiringi petikan gitar dengan lagu “Cavatina”. Dekorasi backdrop cokelat tua, dengan pohon artifisial dan daun-daun dihamburkan di lantai, dengan siluet bulan sabit di pojok kiri atas. ]
Mengesankan
Dengan nafas terengah-engah ku perlambat lari santaiku pagi ini. Dan seketika itu juga sepasang bola mataku tak berhenti menjelajah pemandangan mengesankan itu. Dimana tak ku dapati monster berkaki empat penghisap bensin berlalu-lalang, tak kutemukan suara bising sepeda bermesin. Benar-benar lain dari biasanya, segerombolan manusia modern berpakaian santai dengan sepatu ketnya, sekelompok pasang pemuda pemudi bercanda tawa mesra, sepasang suami istri memainkan permainan bulu tangkis di rumput hijau diantara gedung-gedung pencakar langit, dan seorang ayah yang mengajari sepatu roda putri kecilnya. Bahkan sekelompok kakek-kakek berpakaian kejawen beserta blangkon di kepala-pun tak mau kalah saing dengan menunggangi sepeda ontel antik kebanggaan mereka. Banyak aktivitas yang ku lihat pagi ini yang tak ku temukan di pagi-pagi biasanya, dan aku menyukainya.
Di tengah hiruk pikuk pagi ini, pandanganku berhenti pada tiga bidadari penegak keadilan lalu lintas di persimpangan jalan itu. Dengan anggunnya mereka mengamati view di sekeliling dengan mimik antusias dan bumbu senyum manisnya di atas tunggangan mungil mereka. Ku beranikan diri tuk menghampirinya sambil balas senyuman mereka dan berkata “Ibu… saya take picture boleh?”
“Ohh.. silahkan mas”, sungguh jawaban yang menghangatkan reluk jiwa.
tuuiinngg.. suara khas jepretan kamera HP-ku pun berbunyi..
“Ibu.. terimakasih ya, selamat bertugas..” ku ungkapkan rasa terimakasihku..
Dan sekali lagi jawaban anggun mereka terdengar nyaring di telingaku,
“Sama-sama mas, selamat menikmati pagi ini, dan selamat hari Minggu.”
Benar-benar mengesankan pagi ini ku rasakan. Mengamati berbagai antusiasisme warga kota Semarang di car freeday pagi ini. Bahkan sang kuda gagahpun ikut ambil bagian untuk menjadi tunggangan pak polisi di kawasan Simpang Lima itu. Dan akhirnya mentaripun semakin tinggi. Ku langkahkan sepasang kaki kecilku pulang melewati segerombolan pegawai kantoran yang sedang meliak-liuk menirukan gaya senam sang pelatih di bawah gedung berkaca itu dengan iringan cha cha-nya.
Basah karena kringat, lapar karena tenaga terkuras, haus karena cairan tubuh terbuang, hitam karena kepanasan, tak kurasa, dan tak mau kurasakan. Karena hanya satu yang ku rasakan, pagi ini benar-benar mengesankan.


